Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2017

Dibalik Rintik Gerimis

*Aku percaya dinginnya hujan akan tergantikan oleh hangatnya mentari. Bahkan pelangi akan berkenan menambah eloknya semesta. **Tapi liku ini terus meliku. Sekedar datar sejenak saja tak bisa. Aku lelah. *Berdua kita bisa. Melewati liku yang meliku. Aku percaya di ujungnya akan ada keindahan yang tak terbatas. Seperti jalan menuju puncak merapi yang tak mudah. Sesampainya di atas, segala keindahan ada. **Aku tak bisa. Biarlah semua rasa ini menguap bersama udara. Biarlah segala yang pernah ada memudar tanpa tanda. *Aku akan selalu menjaga hati ini. Kan ku abadikan dirimu di sukmaku. Kuberharap kita akan bisa bersama. Walau di kehidupan yang lain. **Anugerah rasa ini takkan pernah terganti. Balasan rasa yang bertubi-tubi dari segala pesonamu akan selalu terpatri. Namun aku harus pergi. *Pergilah walau aku sesak. Pergilah walau aku tak karuan. Pergilah dengan rasaku yang takkan pernah hilang. Di suatu sore, bersama lembut rintik gerimis yang tak enggan menetesi wajah dan tub...

Rindu dalam Goyah

Hei pelipur laraku Aku tahu kau takkan selalu sekuat karang Aku tahu kau takkan selalu kokoh seperti gunung yang menjulang Hei sandaran hatiku Aku tahu kau sedang membutuhkan sandaran Aku tahu kau sedang dalam kegundahan Hei cahaya dalam gelapku Aku tahu kau sedang memerlukan cahaya Aku tahu kau sedang dalam kegelapan Hei kebahagiaan dari segala kebahagiaanku Tenanglah Semua akan baik-baik saja Padahal batinku runyam mendengar setiap kegundahanmu Hei keindahan dari segala keindahanku Kuatlah Semua akan kita lewati bersama Padahal hatiku tak karuan setiap melihat kelimpunganmu Hei ketulusan dari segala ketulusanku Semangatlah Semua akan berakhir bahagia Walaupun sukmaku menangis setiap kau ungkapkah keresahanmu Untuk Mamah yang sedang dalam kerapuhan. Esok kami akan pulang. Walaupun lusa kami akan merantau kembali. Hei, hebatlah. Seperti yang sudah-sudah. Hei, tegarlah. Seperti yang telah lalu. Hei, tersenyumlah. Untuk kami.

Dear Zeyna

Gambar
Hei Zeyna. Selamat ulang tahun ke 17 ya. Selamat memasuki gerbang perempuan dewasa. Disana akan banyak sekali keajaiban. Namun gelap terang terkadang sulit dibedakan. Hitam putih serasa membingungkan. Baik buruk mudah menjerumuskan. Karenanya, peganglah erat ilmu agama yang telah kau peroleh. Gunakan setiap aturan walaupun memaksa demi segala kebaikan. Hati-hatilah, jangan sampai kau terperosok dalam jurang yang gelap nan curam. Itu akan menyeramkan. Jelilah melihat sekitar. Pinta petunjuk dan perlindunganNya selalu. Agar kau selalu baik-baik saja dan bahagia. Berjalanlah mengikuti takdirmu. Tapaki setiap jengkal kehidupanmu. Jangan lupa, tulis mimpi-mimpimu. Ukir dalam prasasti sukmamu. Percayalah, semua itu akan menjadi kenyataan di waktu dan cara yang terindah menurutNya. Ketika semangatmu memudar, diamlah sejenak. Ketika jiwa dan ragamu melelah, istirahatlah sebentar. Tapi jangan kau terbuai atas kenyamanan. Bangun dan lihatlah sekitar. Dunia begitu indah, semesta begitu lua...

Bapak

"Pak, kok ada gundukan pasir di depan rumah? Mau buat apa?" Tanya Setya. "Toko." Jawab Bapak singkat. "Disebelah mana? Bangunan rumah ini kan sudah tak memiliki tanah kosong." Setya semakin penasaran. "Tidak ada tanah kosong. Tapi ada kamar kosong." Jawab Bapak dengan nada sedikit sinis. "Kamar Setya?" "Iya." Setya berlalu meninggalkan rumah orang tuanya. Tanpa berpamitan, tanpa melanjutkan obrolan tentang rencana Bapaknya. Hatinya remuk. Perasaan dikhianati begitu merajalela. Fikirannya kalut. Pemikiran tentang kejahatan Bapaknya menguasai. *** Setya datang ke rumah Andre. Setya menceritakanyang ia rasakan dan yang ia fikirkan. "Bang, aku mencintai Rina istriku, Khanza anakku dengan seluruh hatiku. Aku mengusahakan semuanya untuk mereka. Disisi lain, Bapak dari dulu tidak menyukai Rina. Bahkan setelah Khanza lahir." Cerita Setya. "Sabar bro, Bapak mungkin butuh waktu menerima semua keputusanmu."...

Aku lelah

Kau tega pergi Puluhan tahun aku merindu Meringkuk dalam selimut sunyi Laraku menderu Janjimu lenyap Ikrarmu tak terwujud Aku kalap Kau hilang wujud Aku sudah usang Mereka sudah beranak pinak Aku kelimpungan Semua menjadi tak enak Hei malaikat maut Bawa aku ke peraduannya Separuh jiwaku dulu Aku lelah

Keindahan Abadi

Gambar
Segala mengusang mengikuti masa Keelokannya diikuti nestapa semesta Warna berganti-ganti Hawa beda menerpa Ragakupun menua bersama usia Jiwaku rumit atas rindu dari langit Cinta begitu pelik Sang hati menjerit pait Bayi itu sudah berbayi Di pulau yang tak mudah terlampaui Aku terperosok dalam sunyi Jatuh meraba rasa Aku ingin ke tempatmu saja Keindahan abadiku yang telah memberi bayi Kemudian sesaat itu ragamu mati Namun jiwamu dalam jiwaku sejati Dian Narasya Yogyakarta, 6 Oktober 2017

Ibu atau Dia?

Gambar
“Dari mana saja kamu?” “Dari rumah teman Bu.” “Temanmu siapa?” “Hmmm... Rudi Bu.” Jawab Bahari tidak luwes.  “Di Gunungkidul?” “Kok Ibu tahu?” “Om Parman mengikutimu. Ibu yang minta. Ini ketiga kalinya kamu pergi ke Gunungkidul, tanpa pamit kepada Ibu. Ibu sudah tahu kamu bukan ke rumah Rudi, itu cuma akal-akalanmu saja. Kamu mau apa sekarang?” “Maksud Ibu?” “Ibu atau dia?” “Bu... Bahari minta ma’af. Bahari tak bisa memilih. Kalian perempuan yang Bahari cintai.” Bahari bersimpuh di pangkuan ibunya yang duduk di kursi roda. “Ibu sudah tua. Tidak sanggup lagi merawatmu. Malah sebaliknya, kamu mungkin sudah lelah merawat Ibu. Ibu hanya merepotkanmu.” “Bahari menyayangi kalian tanpa batas, kalian adalah penyebab Bahari ada sekarang. Sumber dari kehidupan Bahari.” Ibu melepaskan simpuhan Bahari dengan sedikit kasar. Bahari bangkit dengan terpaksa. Berdiri di depan ibunya, memandangi wajah ibunya sesekali menunduk. “Kamu ingat, rumah ini pernah ingin kamu bakar...

Hei, Masa Lalu.

Gambar
Hei, masa lalu. Apa kabar? Lama kita tak saling memberi kabar. Hei, masa lalu. Aku sekarang di kotamu. Ada rindu terselip dalam aroma kota ini, ada kenangan menyapa melalui isi kota ini. Hei, masa lalu. Masihkah kau disini? Pukul 15.00 sore kami tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta yang sudah banyak berubah rupanya. Aroma kota ini sudah tercium. Membuka tabir rindu yang usang. Menerawangkan kenangan yang terpendam. 12 tahun silam, Aku melihat punggungmu disini. “Mah, Papah kok belum datang?” “Sebentar, Mamah Whatsapp Papah dulu ya.” Kami datang ke kota ini untuk menyusul Mas Andre suamiku. Pekerjaan Mas Andre disini akan rampung dalam waktu 10 hari lagi. Alea, anakku juga sedang libur kenaikan kelas selama dua minggu. Sehingga kami berencana untuk menikmati kota budaya ini. “Alea, kata Papah kita diminta untuk menunggu. Papah masih ada sedikit pekerjaan.” “Lama tidak Mah?” “Kata Papah, sekitar setengah sampe 1 jam kok. Sabar ya Alea.” “Iya Mah.” Aku dan Alea duduk d...