Ibu atau Dia?

“Dari mana saja kamu?”
“Dari rumah teman Bu.”
“Temanmu siapa?”
“Hmmm... Rudi Bu.” Jawab Bahari tidak luwes.
 “Di Gunungkidul?”
“Kok Ibu tahu?”
“Om Parman mengikutimu. Ibu yang minta. Ini ketiga kalinya kamu pergi ke Gunungkidul, tanpa pamit kepada Ibu. Ibu sudah tahu kamu bukan ke rumah Rudi, itu cuma akal-akalanmu saja. Kamu mau apa sekarang?”
“Maksud Ibu?”
“Ibu atau dia?”
“Bu... Bahari minta ma’af. Bahari tak bisa memilih. Kalian perempuan yang Bahari cintai.” Bahari bersimpuh di pangkuan ibunya yang duduk di kursi roda.
“Ibu sudah tua. Tidak sanggup lagi merawatmu. Malah sebaliknya, kamu mungkin sudah lelah merawat Ibu. Ibu hanya merepotkanmu.”
“Bahari menyayangi kalian tanpa batas, kalian adalah penyebab Bahari ada sekarang. Sumber dari kehidupan Bahari.”
Ibu melepaskan simpuhan Bahari dengan sedikit kasar. Bahari bangkit dengan terpaksa. Berdiri di depan ibunya, memandangi wajah ibunya sesekali menunduk.
“Kamu ingat, rumah ini pernah ingin kamu bakar? Kamu marah besar kepada kami. Kamu menjadi anak nakal tak terkendali. Hingga Kamu masuk bui padahal masih berseragam putih abu-abu?”
Bahari mengangguk.
“Aku tahu, kala itu kamu hancur. Ketika ada seseorang menceritakan rahasia tentangmu. Hati Ibu lebih hancur Bahari.”
“Ma'afkan Bahari Bu.” Pinta Bahari.
“Segalanya Ibu korbankan untukmu. Sudah banyak yang Bapakmu usahakan untukmu. Hingga Bapakmu meninggal karena sakit jantung. Ini balasanmu. Pergi saja kamu ke wanita itu.”
“Tidak Bu. Aku akan tetap bersama Ibu.”
“Untuk apa? Wanita itu sudah berjanji tidak akan mengusik hidup kita. 25 tahun sudah berlalu. Sekarang kamu sudah gagah dan memiliki pekerjaan yang bagus, kemudian wanita itu muncul. Enak saja. Ibu tak bisa terima.”
“Bu... aku akan selalu bersama Ibu. Tapi ijinkan aku untuk menemuinya, beberapa kali saja. Sebelum ia meninggal seperti Bapak.”
“Wanita itu sakit?”
“Sudah tergolek Bu. Tak bisa bicara. Tak bisa bergerak. Waktuku tak banyak Bu. Aku ingin bersamannya. Bersama wanita yang mengandungku selama 9 bulan.”
“Ibu tak tahu harus menjawab apa. Kamu sudah menghancurkan hati Ibu. Ibu yang merawatmu dari kamu lahir. Perjanjian hitam di atas putih sudah jelas. Tapi, ya sudahlah. Bagaimanapun, ia Ibu kandungmu dan kamu hanya anak adopsi Ibu.”
Bahari bersimpuh kembali di pelukan Ibunya.
“Ma'afkan Bahari Bu. Ma'afkan Ibu kandung Bahari.”
“Sudahlah sana. Kamu temani dia saja dulu.”
“Maturnuwun Bu.”


Dian Narasya
Yogyakarta, 4 Oktober 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Operasi Zebra

Rindu dalam Goyah

Hei, Masa Lalu.