Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Gamelan

Tungtangtung, tungtangtung, tungtangtung, tung tung tung tung... Nada-nada gamelan yang tak mau kalah dari suara gemricik air dari angkasa. Beberapa malam terakhir sekitar pukul 7 hingga pukul 10 nada-nada gamelan asyik berirama. Suara itu berasal dari rumah salah satu tetangga, untuk berlatih mempersiapkan sebuah acara. Suara merdu nan syahdu gamelan, kami nikmati. Menjadi penggembira hati, penghangat  jiwa dikala hawa malam berpadu hujan dingin memeluk tulang belulang. Anak-anak tentunya bertanya. Suara apa itu. Tanpa aba-aba, mereka pun menari  mengikuti iramanya. Kemudian tertawa lepas, bergerak bebas, kesedihan menjadi terhempas. Ketika gamelan mulai menunjukkan aksinya, namun anak-anak sudah terlelap. Kami menikmati dengan cara lain. Membuat kopi hitam panas, dan menikmatinya denagn beberapa camilan. Lemak tak kami pedulikan. Duh, syahdunya. Hujan, gamelan, kemudian menikmati kopi berdua saja. Suasana seperti ini yang kami rindukan kala di Pemalang. R...

Kerinduan

Gersang bumi tanpa tirta Laksana hati merana kesepian Gelap semesta tanpa cahaya Laksana sukma nelangsa kesedihan Gugur nyawa tanpa udara Bak batin tersungkur kepiluan Gigil tubuh tanpa bara Bak jiwa meringkuk kerinduan Sepiku, karenamu Cinta sejati hilang jiwa Pergi ke nirwana Nelangsaku, karenamu Belahan jiwa lenyap dari mata Pergi tak bersama Piluku, karenamu Jantung hati meninggalkan dunia Pergi meninggalkan cinta Rinduku, karenamu Tulang rusukku tak bernyawa Pergi meringkukan diri ini Kini, aku tertatih dalam kesepian Kini, aku tanpa daya dalam nelangsa Kini, aku lemah dalam pilu Kini, aku tak kuasa menahan rindu Aku, ingin segera bersamamu Dalam keabadian

Keluarga Lama Rasa Baru

Aku hanya ingin sekedar menceritakan tentang mereka dan aku diantara mereka. Oke, aku awali sejarahnya dulu ya kenapa aku bisa menjadi anggota keluarga lama rsa baru ini. Keluarga ini beranggotakan wanita-wanita hebat. Kebanyakan sudah bertitle 'Emak'. Anggotanya sebagain besar sudah kukenal sejak lama, ya mereka teman-teman SMAku baik seangkatan atau berbeda angkatan. Satu yang pasti, kami sama-sama 'wong Pemalang' dengan bahasa terkeren di bumi. Ah, beberapa kali aku melirik mereka, karyanya, cerita-ceritanya, gosip-gosipnya, eh. Teman-teman yang memang sudah memiliki eksistensi sendiri di kalangan pertemanan jaman SMA dulu.  Haduh, minderlah. Aku kan orang hutan maksudnya sekitar tempat tinggalku waktu SMA melewati hutan-hutan dan dekat dengan hutan. Sebutan bagiku dan beberapa teman yang berasal dari daerah yang sama pun masih selalu terngiang. Jadi aku mah apa atuh, mau gabung sama mereka yang orang-orang berada dan orang kota? Pinter-pinter, cantik-cantik...

Terkadang, Aku Cemburu Padanya.

Terkadang, aku cemburu padanya. Ketika kurasai pikuk kehidupanku. Pekerjaan lalu lalang tak karuan. Gerak fisik, fikiran dan hati dipaksa selaras. Kewajiban juga terus menuntutku. Rengek orang-orang disekitarkupun meriuh tanpa mempedulikan kegelisahanku. Mereka menuntutku selalu sigap. Tak boleh sedetikpun tiarap. Terkadang, aku cemburu padanya. Aku melihatnya hidup dalam bahagia. Tak perlu  menuruti tuntutan pekerjaan yang meruah. Tak perlu mengikuti aturan pemerintah. Tak perlu memikirkan hidup yang penuh keriwehan. Terkadang, aku cemburu padanya. Tanpa kerja keras, ia memiliki tempat tinggal yang luas. Aliran air disekitar terkadang menderas. Pepohonan dan rerumputanpun berkelas. Ah, pasti sejuk dan nyaman disana. Jauh dari hiruk pikuk kehidupan yang kacau. Ah, Pasti desir bayu akan setia menemani, damai dan tenang. Terkadang, aku cemburu padanya. Tanpa berjuang keras, apa yang ia butuhkan sudah tersedia. Makanan, permainan, dan segala kebutuhan hidupnya. Terkad...

Hei Diri, (Masih) Mau Mengeluh?

Hei diri, (masih) mau mengeluh? Peluhmu tak sehebat peluhnya lho. Kekuatan tanganmu saja tak mesti bisa seperti dia. Satu sak semen dengan mudah dia bawa dari satu titik ke titik lain. Ember-ember berisi tanah hasil galian, ia bawa dengan gampang. Kulitnya melegam, terbakar matahari. Jika hujan datang, tulangnya meringkuk dibalik daging namun tetap dipaksa. Bergerak. Meladeni pekerja lain. Membawakan olahan pasir dan semen menuju titik yang membutuhkan. Sesekali membantu pekerja lain memegangi besi beton yang besar. Pasti itu berat. Hei diri, (masih) mau tidak bersyukur? Lelahmu tak selelahnya lho. Suatu hari ia harus masuk lobang galian. Mengayunkan cangkul. Mengisi ember dengan tanah liat. Mengangkatnya ke atas. Estafet dengan sesama orang hebat itu. Sesekali membantu pekerja lain membawakan material-material yang tak ringan. Pasti itu tak mudah bukan? Hei diri, (masih) mau marah dengan takdir? Marahmu memalukan lho. Dia saja yang harus jauh dari keluarga demi pekerjaan yang l...

MENUJU PEMALANG KOTA CERDAS

Pemalang adalah sebuah kebupaten di provinsi Jawa Tengah. Letak geografis kabupaten Pemalang berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Pekalongan di timur, Kabupaten Purbalingga di selatan, dan Kabupaten Tegal di barat. Pusat kota di kabupaten Pemalang adalah di Kota Pemalang. Kota Pemalang adalah salah satu kota kecil di provinsi Jawa Tengah. Namun saya percaya, kota Pemalang dapat menjadi kota besar dan menjadi kota cerdas. Ada beberapa hal yang ingin saya utarakan untuk menuju Pemalang kota cerdas, antara lain: 1.        Smart People Sumber daya manusia Pemalang yang cerdas adalah modal utama untuk menuju Pemalang kota Cerdas. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan, antara lain: ·          Sosilisasi, pendampingan dan pengawasan penggunaan gadget untuk menunjang pendidikan anak dari usia dini sampai dewasa. Sosialisasi ditujukan kepada seluruh lapisan masyarakat melalui sek...

Gadget dalam Kehidupan Keluargaku

Saya adalah wanita pekerja berusia 30 tahun, memiliki suami dengan usia yang tak jauh berbeda. Usia pernikahan kami baru tujuh tahun. Kami telah dikaruniai dua anak yang masih balita. Sedari belum menikah, kami sudah mengenal, memiliki, dan menggunakan gadget  untuk berbagai keperluan. Pemanfaatan gadget  sudah sangat lekat dalam kehidupan kami. Gadget  sudah menjadi gaya hidup dan kebutuhan primer dalam keluarga kecil kami. Perkembangan gadget  sangat membantu kehidupan kami. Kamipun mengikuti perkembangan gadget  sesuai kebutuhan dan memanfaatkannya dengan sebijak-bijaknya. Beberapa pemanfaatan gadget  dalam kehidupan keluarga kami antara lain : 1.        Komunikasi Tidak dipungkiri hal ini adalah tujuan utama orang menggunakan gadget . Mengikuti perkembangannya, komunikasi masih tetap menjadi tujuan utama. Dulu komunikasi menggunakan gadget  hanya dapat mengirim dan menerima pesan teks dan pesan suara. Seiring be...

Pengganggu

Hei, aku Via. Usiaku 16 tahun. Aku masih sekolah di sebuah SMA swasta di kota pelajar. Di sekolah, aku termasuk siswa yang tidak sulit untuk bergaul. Walaupun bukan siswa yang terpandai, terajin, tereksis dan ter ter ter lainnya. Semua yang ada padaku tergolong level medium. Untuk urusan asmara, sebagai siswa normal aku juga ngerasain yang namanya suka sama cowo. Walaupun ada beberapa yang bertepuk sebelah tangan. Gigit jari aja deh aku. Sekarang ini aku sedang dalam kegundahan yang luar biasa. Menjadi beban fikiran dan batin buat aku pribadi dan orang-orang disekitarku. Beberapa waktu belakangan ini ada sesuatu yang datang menggangguku. Hidupku terusik olehnya. Ketika ia datang, runyam semua urusanku. Seringkali ia datang di waktu yang tidak ku harapkan. Aaarrrghhhh... aku sering marah dibuatnya. Muak. Sudah kuusir dengan cara lembut hingga tegas. Ia tetap enggan pergi. Oh Tuhan, kenapa ia seringkali mengganggu hidupku. Bantu aku Tuhan. Supaya ia tak mengusik urusanku. Aku ingin sem...

Operasi Zebra

Disuatu malam di sebuah angkringan di sudut kota Jogja. Radit menikmati kuliner khas angkringan bersama Ryan. Radit : "Dab*, aku tadi sudah panik bertemu Pak Polisi sedang melaksanakan Operasi Zebra di ringroad utara sebelum Monjali dari barat." Ryan : "Terus?" Radit : "Jadi tadi kan aku pulang kerja. Di jalan macet. Rame banget kendaraan. Sore-sore tapi kaya siang hari panasnya. Sangkin banyaknya kendaraan. Bikin pusing. Kendaraanku sampai tidak bergerak. Ternyata di depan sedang ada operasi zebra yang dilakukan Bapak-bapak polisi. Polisinya banyak sekali Dab. Aku panik. Aku cuma bawa KTP. Fikiran jahat sudah muncul, aku mau putar balik saja. Tapi ternyata di belakangku sudah sesak kendaraan lain. Di Ringroad jalannya juga searah. Sudahlah aku pasrah. Tidak mungkin aku menghindar dari operasi itu. Orang-orang di sekitarku pada melihatku. Aku sadar, aku tidak pakai helm. Alamat pasti bakal kena tilang. Sambil menahan malu dan takut, aku mengikuti arus saja....

Menunggumu

Suatu sore, aku berdiri disini. Menatap kendaraan yang lalu lalang. Menunggui seorang perempuan yang sedang menikmati kekhusyukannya. Kami sedang dalam perjalanan pulang dari kota lain. Kami singgah disini sebentar, untuk memenuhi kewajiban di pergantian terangnya hari menjadi gelapnya malam. "Mas Fian?" Suara perempuan yang sepertinya tak asing. Aku menengok, berusaha memahami wajahnya dan meyakinkan diri atas siapa yang ada dihadapanku. Waktu seperti berhenti. Bising lalu lalang kendaraan tiba-tiba menjadi sunyi. "Reyna?" Aku berbalik bertanya dengan nada heran dan sebenarnya lidah ini sempat kaku untuk menyebut nama itu. "Iya aku Reyna. Apa kabarmu Mas?" Reyna bertanya dengan semangat dan senyum khasnya. Senyum itu masih tetap manis bahkan makin manis. Kami berjabat tangan, semuanya bagiku sunyi. Bahkan suara Reyna seperti menghilang. Aku hanya melihat mulutnya bergerak seperti sedang berbicara. "Hei Mas, kok diam saja." Reyna bertanya...

Bersamai Diri

Menelisiki perjalanan di dunia fana ini begitu menakjubkan. Setiap makhlukNya memiliki peran sendiri-sendiri. Melihat diri menjadi begitu tak berarti diantara semesta. Namun nyatanya tak seperti itu. Masing-masing dari kita memiliki makna istimewa. Percayalah, secuil apapun hal diperbuat dengan tujuan yang baik akan menghasilkan kebermanfaatan yang hakiki. Percayalah, sekelumit usaha yang kita wujudkan berlandakan ketulusan akan menghasilkan makna yang sejati. Percayalah, sekedar senyuman akan membawa kita ke dalam ruang kebahagiaan bersama cinta. Ada kalanya tenaga dalam raga seperti enggan bekerjasama dengan hasrat. Ada kalanya keinginan tak sejalan dengan keadaan. Ada kalanya mimpi hanya sekedar mimpi. Ada kalanya cinta tak berbalas. Namun kehidupan harus terus berjalan. Waktu tak bisa menghentikan dirinya sendiri. Masa tak bisa kembali apalagi mundur tak tahu diri. Sesekali boleh menikmati kenyamanan tak bermakna. Tapi hidup harus dijalani, diperbaiki, dicintai menuju bahagia s...

Dibalik Rintik Gerimis

*Aku percaya dinginnya hujan akan tergantikan oleh hangatnya mentari. Bahkan pelangi akan berkenan menambah eloknya semesta. **Tapi liku ini terus meliku. Sekedar datar sejenak saja tak bisa. Aku lelah. *Berdua kita bisa. Melewati liku yang meliku. Aku percaya di ujungnya akan ada keindahan yang tak terbatas. Seperti jalan menuju puncak merapi yang tak mudah. Sesampainya di atas, segala keindahan ada. **Aku tak bisa. Biarlah semua rasa ini menguap bersama udara. Biarlah segala yang pernah ada memudar tanpa tanda. *Aku akan selalu menjaga hati ini. Kan ku abadikan dirimu di sukmaku. Kuberharap kita akan bisa bersama. Walau di kehidupan yang lain. **Anugerah rasa ini takkan pernah terganti. Balasan rasa yang bertubi-tubi dari segala pesonamu akan selalu terpatri. Namun aku harus pergi. *Pergilah walau aku sesak. Pergilah walau aku tak karuan. Pergilah dengan rasaku yang takkan pernah hilang. Di suatu sore, bersama lembut rintik gerimis yang tak enggan menetesi wajah dan tub...

Rindu dalam Goyah

Hei pelipur laraku Aku tahu kau takkan selalu sekuat karang Aku tahu kau takkan selalu kokoh seperti gunung yang menjulang Hei sandaran hatiku Aku tahu kau sedang membutuhkan sandaran Aku tahu kau sedang dalam kegundahan Hei cahaya dalam gelapku Aku tahu kau sedang memerlukan cahaya Aku tahu kau sedang dalam kegelapan Hei kebahagiaan dari segala kebahagiaanku Tenanglah Semua akan baik-baik saja Padahal batinku runyam mendengar setiap kegundahanmu Hei keindahan dari segala keindahanku Kuatlah Semua akan kita lewati bersama Padahal hatiku tak karuan setiap melihat kelimpunganmu Hei ketulusan dari segala ketulusanku Semangatlah Semua akan berakhir bahagia Walaupun sukmaku menangis setiap kau ungkapkah keresahanmu Untuk Mamah yang sedang dalam kerapuhan. Esok kami akan pulang. Walaupun lusa kami akan merantau kembali. Hei, hebatlah. Seperti yang sudah-sudah. Hei, tegarlah. Seperti yang telah lalu. Hei, tersenyumlah. Untuk kami.

Dear Zeyna

Gambar
Hei Zeyna. Selamat ulang tahun ke 17 ya. Selamat memasuki gerbang perempuan dewasa. Disana akan banyak sekali keajaiban. Namun gelap terang terkadang sulit dibedakan. Hitam putih serasa membingungkan. Baik buruk mudah menjerumuskan. Karenanya, peganglah erat ilmu agama yang telah kau peroleh. Gunakan setiap aturan walaupun memaksa demi segala kebaikan. Hati-hatilah, jangan sampai kau terperosok dalam jurang yang gelap nan curam. Itu akan menyeramkan. Jelilah melihat sekitar. Pinta petunjuk dan perlindunganNya selalu. Agar kau selalu baik-baik saja dan bahagia. Berjalanlah mengikuti takdirmu. Tapaki setiap jengkal kehidupanmu. Jangan lupa, tulis mimpi-mimpimu. Ukir dalam prasasti sukmamu. Percayalah, semua itu akan menjadi kenyataan di waktu dan cara yang terindah menurutNya. Ketika semangatmu memudar, diamlah sejenak. Ketika jiwa dan ragamu melelah, istirahatlah sebentar. Tapi jangan kau terbuai atas kenyamanan. Bangun dan lihatlah sekitar. Dunia begitu indah, semesta begitu lua...

Bapak

"Pak, kok ada gundukan pasir di depan rumah? Mau buat apa?" Tanya Setya. "Toko." Jawab Bapak singkat. "Disebelah mana? Bangunan rumah ini kan sudah tak memiliki tanah kosong." Setya semakin penasaran. "Tidak ada tanah kosong. Tapi ada kamar kosong." Jawab Bapak dengan nada sedikit sinis. "Kamar Setya?" "Iya." Setya berlalu meninggalkan rumah orang tuanya. Tanpa berpamitan, tanpa melanjutkan obrolan tentang rencana Bapaknya. Hatinya remuk. Perasaan dikhianati begitu merajalela. Fikirannya kalut. Pemikiran tentang kejahatan Bapaknya menguasai. *** Setya datang ke rumah Andre. Setya menceritakanyang ia rasakan dan yang ia fikirkan. "Bang, aku mencintai Rina istriku, Khanza anakku dengan seluruh hatiku. Aku mengusahakan semuanya untuk mereka. Disisi lain, Bapak dari dulu tidak menyukai Rina. Bahkan setelah Khanza lahir." Cerita Setya. "Sabar bro, Bapak mungkin butuh waktu menerima semua keputusanmu."...

Aku lelah

Kau tega pergi Puluhan tahun aku merindu Meringkuk dalam selimut sunyi Laraku menderu Janjimu lenyap Ikrarmu tak terwujud Aku kalap Kau hilang wujud Aku sudah usang Mereka sudah beranak pinak Aku kelimpungan Semua menjadi tak enak Hei malaikat maut Bawa aku ke peraduannya Separuh jiwaku dulu Aku lelah

Keindahan Abadi

Gambar
Segala mengusang mengikuti masa Keelokannya diikuti nestapa semesta Warna berganti-ganti Hawa beda menerpa Ragakupun menua bersama usia Jiwaku rumit atas rindu dari langit Cinta begitu pelik Sang hati menjerit pait Bayi itu sudah berbayi Di pulau yang tak mudah terlampaui Aku terperosok dalam sunyi Jatuh meraba rasa Aku ingin ke tempatmu saja Keindahan abadiku yang telah memberi bayi Kemudian sesaat itu ragamu mati Namun jiwamu dalam jiwaku sejati Dian Narasya Yogyakarta, 6 Oktober 2017

Ibu atau Dia?

Gambar
“Dari mana saja kamu?” “Dari rumah teman Bu.” “Temanmu siapa?” “Hmmm... Rudi Bu.” Jawab Bahari tidak luwes.  “Di Gunungkidul?” “Kok Ibu tahu?” “Om Parman mengikutimu. Ibu yang minta. Ini ketiga kalinya kamu pergi ke Gunungkidul, tanpa pamit kepada Ibu. Ibu sudah tahu kamu bukan ke rumah Rudi, itu cuma akal-akalanmu saja. Kamu mau apa sekarang?” “Maksud Ibu?” “Ibu atau dia?” “Bu... Bahari minta ma’af. Bahari tak bisa memilih. Kalian perempuan yang Bahari cintai.” Bahari bersimpuh di pangkuan ibunya yang duduk di kursi roda. “Ibu sudah tua. Tidak sanggup lagi merawatmu. Malah sebaliknya, kamu mungkin sudah lelah merawat Ibu. Ibu hanya merepotkanmu.” “Bahari menyayangi kalian tanpa batas, kalian adalah penyebab Bahari ada sekarang. Sumber dari kehidupan Bahari.” Ibu melepaskan simpuhan Bahari dengan sedikit kasar. Bahari bangkit dengan terpaksa. Berdiri di depan ibunya, memandangi wajah ibunya sesekali menunduk. “Kamu ingat, rumah ini pernah ingin kamu bakar...

Hei, Masa Lalu.

Gambar
Hei, masa lalu. Apa kabar? Lama kita tak saling memberi kabar. Hei, masa lalu. Aku sekarang di kotamu. Ada rindu terselip dalam aroma kota ini, ada kenangan menyapa melalui isi kota ini. Hei, masa lalu. Masihkah kau disini? Pukul 15.00 sore kami tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta yang sudah banyak berubah rupanya. Aroma kota ini sudah tercium. Membuka tabir rindu yang usang. Menerawangkan kenangan yang terpendam. 12 tahun silam, Aku melihat punggungmu disini. “Mah, Papah kok belum datang?” “Sebentar, Mamah Whatsapp Papah dulu ya.” Kami datang ke kota ini untuk menyusul Mas Andre suamiku. Pekerjaan Mas Andre disini akan rampung dalam waktu 10 hari lagi. Alea, anakku juga sedang libur kenaikan kelas selama dua minggu. Sehingga kami berencana untuk menikmati kota budaya ini. “Alea, kata Papah kita diminta untuk menunggu. Papah masih ada sedikit pekerjaan.” “Lama tidak Mah?” “Kata Papah, sekitar setengah sampe 1 jam kok. Sabar ya Alea.” “Iya Mah.” Aku dan Alea duduk d...