Terkadang, Aku Cemburu Padanya.
Terkadang, aku cemburu padanya.
Ketika kurasai pikuk kehidupanku. Pekerjaan lalu lalang tak karuan. Gerak
fisik, fikiran dan hati dipaksa selaras. Kewajiban juga terus menuntutku.
Rengek orang-orang disekitarkupun meriuh tanpa mempedulikan kegelisahanku.
Mereka menuntutku selalu sigap. Tak boleh sedetikpun tiarap.
Terkadang, aku cemburu padanya. Aku
melihatnya hidup dalam bahagia. Tak perlu menuruti tuntutan pekerjaan yang meruah. Tak
perlu mengikuti aturan pemerintah. Tak perlu memikirkan hidup yang penuh keriwehan.
Terkadang, aku cemburu padanya.
Tanpa kerja keras, ia memiliki tempat tinggal yang luas. Aliran air disekitar
terkadang menderas. Pepohonan dan rerumputanpun berkelas. Ah,
pasti sejuk dan nyaman disana. Jauh dari hiruk pikuk kehidupan yang kacau. Ah, Pasti desir bayu akan setia menemani, damai dan tenang.
Terkadang, aku cemburu padanya.
Tanpa berjuang keras, apa yang ia butuhkan sudah tersedia. Makanan, permainan,
dan segala kebutuhan hidupnya.
Terkadang, aku cemburu padanya. Ia
memiliki teman dan keluarga yang kompak. Saling mengasihi dan melindungi.
Sangat romantis dan manis. Sesekali ada pergulatan, namun akan segera kembali
dalam keharmonisan.
Terkadang, aku cemburu padanya. Masalah
hidup yang ia hadapi tak sepelik masalah hidupku. Sederhana. Mudah. Bahagia.
Tanpa tuntutan atas pekerjaan dan orang-orang disekitar sepertiku. Mereka
tak memerlukan hal yang ribet demi memenuhi bahagia lahir batinnya. Ah, simple sekali hidupnya.
Terkadang, aku cemburu padanya.
Tuhan begitu mengasihinya. Perbuatannya tak pernah dianggap melanggar. Tidak
akan pernah dianggap keliru. Karena ia monyet yang suka makan pisang di dalam
hutan.
Wkwkkwkkkk aku iri padamu monyet..(eh ini aku ngimingnya sama monyet loh ya)
BalasHapus