Hei Diri, (Masih) Mau Mengeluh?
Hei diri, (masih) mau mengeluh?
Peluhmu tak sehebat peluhnya lho. Kekuatan tanganmu saja tak mesti bisa seperti dia. Satu sak semen dengan mudah dia bawa dari satu titik ke titik lain. Ember-ember berisi tanah hasil galian, ia bawa dengan gampang. Kulitnya melegam, terbakar matahari. Jika hujan datang, tulangnya meringkuk dibalik daging namun tetap dipaksa. Bergerak. Meladeni pekerja lain. Membawakan olahan pasir dan semen menuju titik yang membutuhkan. Sesekali membantu pekerja lain memegangi besi beton yang besar. Pasti itu berat.
Hei diri, (masih) mau tidak bersyukur?
Lelahmu tak selelahnya lho. Suatu hari ia harus masuk lobang galian. Mengayunkan cangkul. Mengisi ember dengan tanah liat. Mengangkatnya ke atas. Estafet dengan sesama orang hebat itu. Sesekali membantu pekerja lain membawakan material-material yang tak ringan. Pasti itu tak mudah bukan?
Hei diri, (masih) mau marah dengan takdir?
Marahmu memalukan lho. Dia saja yang harus jauh dari keluarga demi pekerjaan yang luar biasa payahnya sabar. Senyumnya selalu terkembang. Debu-debu bangunan tidak pernah ia hiraukan. Bongkahan-bongkahan material, ia abaikan. Injak. Dilewati. Dia menikmati.
Hei diri, (masih) mau menuntut banyak kepada pasangan?
Tuntutanmu jangan terlalu ya. Dia saja tak pernah menuntut kepada Tuhan untuk menjadikannya seorang dokter. Dia hanya meminta akan selalu ada lahan yang perlu dibangun atau bangunan yang perlu diperbaiki. Pasangan ia kemana? Tentu sama. Sedang bekerja keras di kota lain. Jarak jauhpun harus dijalani. Dia tabah.
Hei diri, (masih) mau lebay melihat anakmu terluka padahal secuil?
Lebaymu itu payah. Anaknya, ia tinggalkan bersama neneknya. Ketika ia harus menekuni material-material dan bangunan. Do'a yang selalu ia panjatkan untuk anaknya yang tabah tanpa khawatir dengan luka secuil yang pasti akan dirasakan seorang bocah.
Hei diri, (masih) malu keluar rumah tanpa baju yang rapi?
Ah, itu tak berlaku untuknya. Setiap inchi kain yang melekat di tubuhnya berdebu, kotor, bau. Kain penutup kepala yang kotor dan usang, tetap ia kenakan. Walaupun panas tak terkira.
Hei diri, (masih) mau menunda sholat karena merasa ingin rehat sebentar saja?
Lihatlah ia (lagi), adzan yang berkumandang akan menghentikan aktivitasnya. Seragamnya yang kotor, akan disinggahkan. Berganti pakaian yang bersih dan segera bermukena putih tulang tanda usang.
Peluhmu tak sehebat peluhnya lho. Kekuatan tanganmu saja tak mesti bisa seperti dia. Satu sak semen dengan mudah dia bawa dari satu titik ke titik lain. Ember-ember berisi tanah hasil galian, ia bawa dengan gampang. Kulitnya melegam, terbakar matahari. Jika hujan datang, tulangnya meringkuk dibalik daging namun tetap dipaksa. Bergerak. Meladeni pekerja lain. Membawakan olahan pasir dan semen menuju titik yang membutuhkan. Sesekali membantu pekerja lain memegangi besi beton yang besar. Pasti itu berat.
Hei diri, (masih) mau tidak bersyukur?
Lelahmu tak selelahnya lho. Suatu hari ia harus masuk lobang galian. Mengayunkan cangkul. Mengisi ember dengan tanah liat. Mengangkatnya ke atas. Estafet dengan sesama orang hebat itu. Sesekali membantu pekerja lain membawakan material-material yang tak ringan. Pasti itu tak mudah bukan?
Hei diri, (masih) mau marah dengan takdir?
Marahmu memalukan lho. Dia saja yang harus jauh dari keluarga demi pekerjaan yang luar biasa payahnya sabar. Senyumnya selalu terkembang. Debu-debu bangunan tidak pernah ia hiraukan. Bongkahan-bongkahan material, ia abaikan. Injak. Dilewati. Dia menikmati.
Hei diri, (masih) mau menuntut banyak kepada pasangan?
Tuntutanmu jangan terlalu ya. Dia saja tak pernah menuntut kepada Tuhan untuk menjadikannya seorang dokter. Dia hanya meminta akan selalu ada lahan yang perlu dibangun atau bangunan yang perlu diperbaiki. Pasangan ia kemana? Tentu sama. Sedang bekerja keras di kota lain. Jarak jauhpun harus dijalani. Dia tabah.
Hei diri, (masih) mau lebay melihat anakmu terluka padahal secuil?
Lebaymu itu payah. Anaknya, ia tinggalkan bersama neneknya. Ketika ia harus menekuni material-material dan bangunan. Do'a yang selalu ia panjatkan untuk anaknya yang tabah tanpa khawatir dengan luka secuil yang pasti akan dirasakan seorang bocah.
Hei diri, (masih) malu keluar rumah tanpa baju yang rapi?
Ah, itu tak berlaku untuknya. Setiap inchi kain yang melekat di tubuhnya berdebu, kotor, bau. Kain penutup kepala yang kotor dan usang, tetap ia kenakan. Walaupun panas tak terkira.
Hei diri, (masih) mau menunda sholat karena merasa ingin rehat sebentar saja?
Lihatlah ia (lagi), adzan yang berkumandang akan menghentikan aktivitasnya. Seragamnya yang kotor, akan disinggahkan. Berganti pakaian yang bersih dan segera bermukena putih tulang tanda usang.
Dian iki asline yen wes nulis, W.O.W banget lho! Idenya unik. Kasih saran boleh ga? Endingnya nanggung Dian, kok tahu2 udah selesai. Coba ditambahin satu paragraf lagi sebagai penutup, pasti lebih jos gandos! 👍👍 Semangat nulis Dian
BalasHapusSelama mau, pasti bisa 💪
BalasHapusDian iki asline yen wes nulis, W.O.W banget lho! Idenya unik. Kasih saran boleh ga? Endingnya nanggung Dian, kok tahu2 udah selesai. Coba ditambahin satu paragraf lagi sebagai penutup, pasti lebih jos gandos! 👍👍 Semangat nulis Dian
BalasHapusAku yang tukang ngeluh ya dian
BalasHapus