Menunggumu

Suatu sore, aku berdiri disini. Menatap kendaraan yang lalu lalang. Menunggui seorang perempuan yang sedang menikmati kekhusyukannya. Kami sedang dalam perjalanan pulang dari kota lain. Kami singgah disini sebentar, untuk memenuhi kewajiban di pergantian terangnya hari menjadi gelapnya malam.

"Mas Fian?" Suara perempuan yang sepertinya tak asing.
Aku menengok, berusaha memahami wajahnya dan meyakinkan diri atas siapa yang ada dihadapanku. Waktu seperti berhenti. Bising lalu lalang kendaraan tiba-tiba menjadi sunyi.
"Reyna?" Aku berbalik bertanya dengan nada heran dan sebenarnya lidah ini sempat kaku untuk menyebut nama itu.
"Iya aku Reyna. Apa kabarmu Mas?" Reyna bertanya dengan semangat dan senyum khasnya. Senyum itu masih tetap manis bahkan makin manis.
Kami berjabat tangan, semuanya bagiku sunyi. Bahkan suara Reyna seperti menghilang. Aku hanya melihat mulutnya bergerak seperti sedang berbicara.

"Hei Mas, kok diam saja." Reyna bertanya sambil menepuk punggung telapak tanganku dengan tangan kirinya. Ternyata sedari tadi tanganku kaku tak bergerak menyambut jabat tangannya.
"Hmm... eh anu. Baik kok baik. Ka ka kamu gi gimana?" Kekikukanku semakin jelas.
"Alhamdulillah aku baik Mas. Kamu sendiri gimana?" Reyna bertanya dengan ringan dan santai.
"Aku juga baik." Jawabku kaku.

Tiba-tiba ada anak laki-laki berusia sekitar 5 tahun. Berlari dan memeluk Reyna.
"Kenalan sini sama Om Fian. Temen Mamah." Reyna membimbing anak kecil itu untuk mendekatiku dan bersalaman denganku.
"Aku Eza Om." Anak itu menjawab dengan suara khas anak-anak. Senyumnya seperti senyum Reyna. Senyum yang manis dan akan selalu di ikuti lesung di kedua pipinya.
"Om Fian." Aku menjawab singkat tanpa basa basi.
"Kamu sama siapa Mas kesini? Mana istrimu?" Reyna bertanya dan membuatku kelimpungan.

"Kamu sudah selesai?" Fokusku sengaja kualihkan pada perempuan yang kutunggu tadi.
"Iya udah." Perempuan itu menjawab singkat sembari memperbaiki jilbab merah marunnya.

"Ini istrimu Mas? Wah cantik sekali. Masih muda banget." Reyna langsung bertanya sok tahu.
"Hei, aku Reyna." Selang setengah detik Reyna sudah meperkenalkan diri dan mengajaknya berjabat tangan.
"Mba Reyna?" Perempuan itu justru terhenyak seketika mendengar nama Reyna.
"Iya, Aku Reyna. Kamu siapa? Kapan kalian nikah? Kok aku ndak diundang?" Reyna melontarkan pertanyaan bertubi-tubi.

Eza berlari menuju laki-laki yang sedang sibuk memakai sepatu. Reyna lebih fokus kepada kami.

"Mba, ini Nia. Keponakan Om Fian. Mba Reyna lupa?" Nia menjelaskan dengan wajah gugup dan terheran-heran.
"Hah Nia?" Reyna terpenganga.
"Iya Mba. Sudah 10 tahun lebih kan Mba Reyna ndak ada kabar. Jadi lupa deh dengan aku. Mba Reyna kemana aja? Nenek nungguin Mba. Tuh Om Fian juga masih setia nungguin Mba Reyna." Nia bertanya dan membuka semua cerita selama 10 tahun ini tanpa rem. Maklum dia masih belia dan polos.

"Jadi kamu belum menikah Mas?" Pandangan serius Reyna beralih kepadaku.
Aku hanya mengangguk. Sambil melirik posisi Eza bersama laki-laki itu. Aku yakin dia adalah Ayah Eza, suami Reyna. Mereka sepertinya sudah hampir beranjak. Aku tarik tangan Nia.
"Ayo lanjut perjalanan." Aku sedikit memaksa Nia.
"Tapi gerimis Om." Nia sedikit menolak. Aku tetap menarik tangannya.

Kami berlalu meninggalkan Reyna yang berdiri terpaku.

Reyna, aku memang masih setia menunggumu. Walaupun keputusanku ini menyakitkan. Terutama Ibu. Beliau sering sedih melihat anak laki-lakinya belum menikah di usia yang sudah cukup matang.
Rey, berbahagialah bersama keluarga kecilmu. Maka aku turut bahagia. Bersama gerimis ini kusampaikan rindu dan do'a untukmu. Aku yakin suatu waktu kita akan bersatu. Walaupun tidak di kehidupan sekarang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Operasi Zebra

Rindu dalam Goyah

Hei, Masa Lalu.