Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2017

Terkadang, Aku Cemburu Padanya.

Terkadang, aku cemburu padanya. Ketika kurasai pikuk kehidupanku. Pekerjaan lalu lalang tak karuan. Gerak fisik, fikiran dan hati dipaksa selaras. Kewajiban juga terus menuntutku. Rengek orang-orang disekitarkupun meriuh tanpa mempedulikan kegelisahanku. Mereka menuntutku selalu sigap. Tak boleh sedetikpun tiarap. Terkadang, aku cemburu padanya. Aku melihatnya hidup dalam bahagia. Tak perlu  menuruti tuntutan pekerjaan yang meruah. Tak perlu mengikuti aturan pemerintah. Tak perlu memikirkan hidup yang penuh keriwehan. Terkadang, aku cemburu padanya. Tanpa kerja keras, ia memiliki tempat tinggal yang luas. Aliran air disekitar terkadang menderas. Pepohonan dan rerumputanpun berkelas. Ah, pasti sejuk dan nyaman disana. Jauh dari hiruk pikuk kehidupan yang kacau. Ah, Pasti desir bayu akan setia menemani, damai dan tenang. Terkadang, aku cemburu padanya. Tanpa berjuang keras, apa yang ia butuhkan sudah tersedia. Makanan, permainan, dan segala kebutuhan hidupnya. Terkad...

Hei Diri, (Masih) Mau Mengeluh?

Hei diri, (masih) mau mengeluh? Peluhmu tak sehebat peluhnya lho. Kekuatan tanganmu saja tak mesti bisa seperti dia. Satu sak semen dengan mudah dia bawa dari satu titik ke titik lain. Ember-ember berisi tanah hasil galian, ia bawa dengan gampang. Kulitnya melegam, terbakar matahari. Jika hujan datang, tulangnya meringkuk dibalik daging namun tetap dipaksa. Bergerak. Meladeni pekerja lain. Membawakan olahan pasir dan semen menuju titik yang membutuhkan. Sesekali membantu pekerja lain memegangi besi beton yang besar. Pasti itu berat. Hei diri, (masih) mau tidak bersyukur? Lelahmu tak selelahnya lho. Suatu hari ia harus masuk lobang galian. Mengayunkan cangkul. Mengisi ember dengan tanah liat. Mengangkatnya ke atas. Estafet dengan sesama orang hebat itu. Sesekali membantu pekerja lain membawakan material-material yang tak ringan. Pasti itu tak mudah bukan? Hei diri, (masih) mau marah dengan takdir? Marahmu memalukan lho. Dia saja yang harus jauh dari keluarga demi pekerjaan yang l...

MENUJU PEMALANG KOTA CERDAS

Pemalang adalah sebuah kebupaten di provinsi Jawa Tengah. Letak geografis kabupaten Pemalang berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Pekalongan di timur, Kabupaten Purbalingga di selatan, dan Kabupaten Tegal di barat. Pusat kota di kabupaten Pemalang adalah di Kota Pemalang. Kota Pemalang adalah salah satu kota kecil di provinsi Jawa Tengah. Namun saya percaya, kota Pemalang dapat menjadi kota besar dan menjadi kota cerdas. Ada beberapa hal yang ingin saya utarakan untuk menuju Pemalang kota cerdas, antara lain: 1.        Smart People Sumber daya manusia Pemalang yang cerdas adalah modal utama untuk menuju Pemalang kota Cerdas. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan, antara lain: ·          Sosilisasi, pendampingan dan pengawasan penggunaan gadget untuk menunjang pendidikan anak dari usia dini sampai dewasa. Sosialisasi ditujukan kepada seluruh lapisan masyarakat melalui sek...

Gadget dalam Kehidupan Keluargaku

Saya adalah wanita pekerja berusia 30 tahun, memiliki suami dengan usia yang tak jauh berbeda. Usia pernikahan kami baru tujuh tahun. Kami telah dikaruniai dua anak yang masih balita. Sedari belum menikah, kami sudah mengenal, memiliki, dan menggunakan gadget  untuk berbagai keperluan. Pemanfaatan gadget  sudah sangat lekat dalam kehidupan kami. Gadget  sudah menjadi gaya hidup dan kebutuhan primer dalam keluarga kecil kami. Perkembangan gadget  sangat membantu kehidupan kami. Kamipun mengikuti perkembangan gadget  sesuai kebutuhan dan memanfaatkannya dengan sebijak-bijaknya. Beberapa pemanfaatan gadget  dalam kehidupan keluarga kami antara lain : 1.        Komunikasi Tidak dipungkiri hal ini adalah tujuan utama orang menggunakan gadget . Mengikuti perkembangannya, komunikasi masih tetap menjadi tujuan utama. Dulu komunikasi menggunakan gadget  hanya dapat mengirim dan menerima pesan teks dan pesan suara. Seiring be...

Pengganggu

Hei, aku Via. Usiaku 16 tahun. Aku masih sekolah di sebuah SMA swasta di kota pelajar. Di sekolah, aku termasuk siswa yang tidak sulit untuk bergaul. Walaupun bukan siswa yang terpandai, terajin, tereksis dan ter ter ter lainnya. Semua yang ada padaku tergolong level medium. Untuk urusan asmara, sebagai siswa normal aku juga ngerasain yang namanya suka sama cowo. Walaupun ada beberapa yang bertepuk sebelah tangan. Gigit jari aja deh aku. Sekarang ini aku sedang dalam kegundahan yang luar biasa. Menjadi beban fikiran dan batin buat aku pribadi dan orang-orang disekitarku. Beberapa waktu belakangan ini ada sesuatu yang datang menggangguku. Hidupku terusik olehnya. Ketika ia datang, runyam semua urusanku. Seringkali ia datang di waktu yang tidak ku harapkan. Aaarrrghhhh... aku sering marah dibuatnya. Muak. Sudah kuusir dengan cara lembut hingga tegas. Ia tetap enggan pergi. Oh Tuhan, kenapa ia seringkali mengganggu hidupku. Bantu aku Tuhan. Supaya ia tak mengusik urusanku. Aku ingin sem...

Operasi Zebra

Disuatu malam di sebuah angkringan di sudut kota Jogja. Radit menikmati kuliner khas angkringan bersama Ryan. Radit : "Dab*, aku tadi sudah panik bertemu Pak Polisi sedang melaksanakan Operasi Zebra di ringroad utara sebelum Monjali dari barat." Ryan : "Terus?" Radit : "Jadi tadi kan aku pulang kerja. Di jalan macet. Rame banget kendaraan. Sore-sore tapi kaya siang hari panasnya. Sangkin banyaknya kendaraan. Bikin pusing. Kendaraanku sampai tidak bergerak. Ternyata di depan sedang ada operasi zebra yang dilakukan Bapak-bapak polisi. Polisinya banyak sekali Dab. Aku panik. Aku cuma bawa KTP. Fikiran jahat sudah muncul, aku mau putar balik saja. Tapi ternyata di belakangku sudah sesak kendaraan lain. Di Ringroad jalannya juga searah. Sudahlah aku pasrah. Tidak mungkin aku menghindar dari operasi itu. Orang-orang di sekitarku pada melihatku. Aku sadar, aku tidak pakai helm. Alamat pasti bakal kena tilang. Sambil menahan malu dan takut, aku mengikuti arus saja....

Menunggumu

Suatu sore, aku berdiri disini. Menatap kendaraan yang lalu lalang. Menunggui seorang perempuan yang sedang menikmati kekhusyukannya. Kami sedang dalam perjalanan pulang dari kota lain. Kami singgah disini sebentar, untuk memenuhi kewajiban di pergantian terangnya hari menjadi gelapnya malam. "Mas Fian?" Suara perempuan yang sepertinya tak asing. Aku menengok, berusaha memahami wajahnya dan meyakinkan diri atas siapa yang ada dihadapanku. Waktu seperti berhenti. Bising lalu lalang kendaraan tiba-tiba menjadi sunyi. "Reyna?" Aku berbalik bertanya dengan nada heran dan sebenarnya lidah ini sempat kaku untuk menyebut nama itu. "Iya aku Reyna. Apa kabarmu Mas?" Reyna bertanya dengan semangat dan senyum khasnya. Senyum itu masih tetap manis bahkan makin manis. Kami berjabat tangan, semuanya bagiku sunyi. Bahkan suara Reyna seperti menghilang. Aku hanya melihat mulutnya bergerak seperti sedang berbicara. "Hei Mas, kok diam saja." Reyna bertanya...

Bersamai Diri

Menelisiki perjalanan di dunia fana ini begitu menakjubkan. Setiap makhlukNya memiliki peran sendiri-sendiri. Melihat diri menjadi begitu tak berarti diantara semesta. Namun nyatanya tak seperti itu. Masing-masing dari kita memiliki makna istimewa. Percayalah, secuil apapun hal diperbuat dengan tujuan yang baik akan menghasilkan kebermanfaatan yang hakiki. Percayalah, sekelumit usaha yang kita wujudkan berlandakan ketulusan akan menghasilkan makna yang sejati. Percayalah, sekedar senyuman akan membawa kita ke dalam ruang kebahagiaan bersama cinta. Ada kalanya tenaga dalam raga seperti enggan bekerjasama dengan hasrat. Ada kalanya keinginan tak sejalan dengan keadaan. Ada kalanya mimpi hanya sekedar mimpi. Ada kalanya cinta tak berbalas. Namun kehidupan harus terus berjalan. Waktu tak bisa menghentikan dirinya sendiri. Masa tak bisa kembali apalagi mundur tak tahu diri. Sesekali boleh menikmati kenyamanan tak bermakna. Tapi hidup harus dijalani, diperbaiki, dicintai menuju bahagia s...