Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2017

Gamelan

Tungtangtung, tungtangtung, tungtangtung, tung tung tung tung... Nada-nada gamelan yang tak mau kalah dari suara gemricik air dari angkasa. Beberapa malam terakhir sekitar pukul 7 hingga pukul 10 nada-nada gamelan asyik berirama. Suara itu berasal dari rumah salah satu tetangga, untuk berlatih mempersiapkan sebuah acara. Suara merdu nan syahdu gamelan, kami nikmati. Menjadi penggembira hati, penghangat  jiwa dikala hawa malam berpadu hujan dingin memeluk tulang belulang. Anak-anak tentunya bertanya. Suara apa itu. Tanpa aba-aba, mereka pun menari  mengikuti iramanya. Kemudian tertawa lepas, bergerak bebas, kesedihan menjadi terhempas. Ketika gamelan mulai menunjukkan aksinya, namun anak-anak sudah terlelap. Kami menikmati dengan cara lain. Membuat kopi hitam panas, dan menikmatinya denagn beberapa camilan. Lemak tak kami pedulikan. Duh, syahdunya. Hujan, gamelan, kemudian menikmati kopi berdua saja. Suasana seperti ini yang kami rindukan kala di Pemalang. R...

Kerinduan

Gersang bumi tanpa tirta Laksana hati merana kesepian Gelap semesta tanpa cahaya Laksana sukma nelangsa kesedihan Gugur nyawa tanpa udara Bak batin tersungkur kepiluan Gigil tubuh tanpa bara Bak jiwa meringkuk kerinduan Sepiku, karenamu Cinta sejati hilang jiwa Pergi ke nirwana Nelangsaku, karenamu Belahan jiwa lenyap dari mata Pergi tak bersama Piluku, karenamu Jantung hati meninggalkan dunia Pergi meninggalkan cinta Rinduku, karenamu Tulang rusukku tak bernyawa Pergi meringkukan diri ini Kini, aku tertatih dalam kesepian Kini, aku tanpa daya dalam nelangsa Kini, aku lemah dalam pilu Kini, aku tak kuasa menahan rindu Aku, ingin segera bersamamu Dalam keabadian

Keluarga Lama Rasa Baru

Aku hanya ingin sekedar menceritakan tentang mereka dan aku diantara mereka. Oke, aku awali sejarahnya dulu ya kenapa aku bisa menjadi anggota keluarga lama rsa baru ini. Keluarga ini beranggotakan wanita-wanita hebat. Kebanyakan sudah bertitle 'Emak'. Anggotanya sebagain besar sudah kukenal sejak lama, ya mereka teman-teman SMAku baik seangkatan atau berbeda angkatan. Satu yang pasti, kami sama-sama 'wong Pemalang' dengan bahasa terkeren di bumi. Ah, beberapa kali aku melirik mereka, karyanya, cerita-ceritanya, gosip-gosipnya, eh. Teman-teman yang memang sudah memiliki eksistensi sendiri di kalangan pertemanan jaman SMA dulu.  Haduh, minderlah. Aku kan orang hutan maksudnya sekitar tempat tinggalku waktu SMA melewati hutan-hutan dan dekat dengan hutan. Sebutan bagiku dan beberapa teman yang berasal dari daerah yang sama pun masih selalu terngiang. Jadi aku mah apa atuh, mau gabung sama mereka yang orang-orang berada dan orang kota? Pinter-pinter, cantik-cantik...