Keluarga Lama Rasa Baru
Aku hanya ingin sekedar
menceritakan tentang mereka dan aku diantara mereka. Oke, aku awali sejarahnya
dulu ya kenapa aku bisa menjadi anggota keluarga lama rsa baru ini.
Keluarga ini beranggotakan
wanita-wanita hebat. Kebanyakan sudah bertitle 'Emak'. Anggotanya sebagain
besar sudah kukenal sejak lama, ya mereka teman-teman SMAku baik seangkatan
atau berbeda angkatan. Satu yang pasti, kami sama-sama 'wong Pemalang' dengan bahasa
terkeren di bumi. Ah, beberapa kali aku melirik mereka, karyanya,
cerita-ceritanya, gosip-gosipnya, eh. Teman-teman yang memang sudah memiliki
eksistensi sendiri di kalangan pertemanan jaman SMA dulu.
Haduh, minderlah. Aku
kan orang hutan maksudnya sekitar tempat tinggalku waktu SMA melewati hutan-hutan
dan dekat dengan hutan. Sebutan bagiku dan beberapa teman yang berasal dari
daerah yang sama pun masih selalu terngiang. Jadi aku mah apa atuh, mau gabung
sama mereka yang orang-orang berada dan orang kota? Pinter-pinter,
cantik-cantik, sholehah-sholehah. Bergaul dengan mereka waktu SMA saja hanya
sekedarnya. Bahkan beberapa dari mereka, aku tak begitu dekat.
Belasan tahun terpisah oleh jarak
dan waktu, cieeeee biar kaya orang pacaran yang LDRan, ternyata mereka
baik-baik banget. Kaya malaikat yang mau mengulurkan tangannya untuk membantu
manusia yang seperti aku ini, wong ndeso. Keramahtamahan mereka meluluhkan
segala kecurigaanku. Kebaikan mereka, seperti cinta tak bersyarat, eaaaaa. Mereka
mengajakku dalam kebaikan. Mau mendengarkan hal-hal tak penting dariku. Mau
peduli sama aku. Ah pokoknya mereka the
bestlah. Aku jatuh cinta lagi.
Rayuan mereka membuatku masuk
kedalam gerbang kebimbangan, kegundahan dan kegalauan yang tiada tara.
Akhirnya, aku mau mengikuti mereka, toh dapet bolen juga. Eh ups. Aku pun masuk
kedalam keluarga lama rasa baru. Terimakasih ya keluargaku lama rasa baruku.
Semoga aku bisa mengikuti jejak kalian, setidaknya melawan diri sendiri dari
rasa malas untuk menulis.
Masuk ke dalam keluarga ini
prosesnya ternyata tak semudah yang kubayangkan. Perasaan berganti layaknya
musim. Terkadang bahagia, terkadang merasa tertekan, terkadang super semangat,
terkadang sangat malas. Keluarga yang menerimaku apa adanya. Memberi semangat
dalam kebaikan dan membantu menikmati proses menulis. Keluarga yang dermawan
akan ilmu dan pengalaman. Keluarga yang memilki cinta dan saling mendo’a. Serumit
apapun mengikuti langkah keluarga ini, aku akan berjuang untuk setia. Terutama
demi setia pada diri sendiri, melawan malas dan membangkitkan konsistensi diri
dalam berkarya. Seperti mereka. Keluarga hebatku.
Komentar
Posting Komentar