Gamelan

Tungtangtung, tungtangtung, tungtangtung, tung tung tung tung...
Nada-nada gamelan yang tak mau kalah dari suara gemricik air dari angkasa. Beberapa malam terakhir sekitar pukul 7 hingga pukul 10 nada-nada gamelan asyik berirama. Suara itu berasal dari rumah salah satu tetangga, untuk berlatih mempersiapkan sebuah acara.

Suara merdu nan syahdu gamelan, kami nikmati. Menjadi penggembira hati, penghangat  jiwa dikala hawa malam berpadu hujan dingin memeluk tulang belulang.

Anak-anak tentunya bertanya. Suara apa itu. Tanpa aba-aba, mereka pun menari  mengikuti iramanya. Kemudian tertawa lepas, bergerak bebas, kesedihan menjadi terhempas.

Ketika gamelan mulai menunjukkan aksinya, namun anak-anak sudah terlelap. Kami menikmati dengan cara lain. Membuat kopi hitam panas, dan menikmatinya denagn beberapa camilan. Lemak tak kami pedulikan. Duh, syahdunya. Hujan, gamelan, kemudian menikmati kopi berdua saja.


Suasana seperti ini yang kami rindukan kala di Pemalang. Rasanya ingin segera terbang ke Jogja. Kota budaya yang mendamaikan. Kota istimewa penuh cinta, walaupun terkadang tak luput dari drama, eh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Operasi Zebra

Rindu dalam Goyah

Hei, Masa Lalu.