Bapak
"Pak, kok ada gundukan pasir di depan rumah? Mau buat apa?" Tanya Setya.
"Toko." Jawab Bapak singkat.
"Disebelah mana? Bangunan rumah ini kan sudah tak memiliki tanah kosong." Setya semakin penasaran.
"Tidak ada tanah kosong. Tapi ada kamar kosong." Jawab Bapak dengan nada sedikit sinis.
"Kamar Setya?"
"Iya."
Setya berlalu meninggalkan rumah orang tuanya. Tanpa berpamitan, tanpa melanjutkan obrolan tentang rencana Bapaknya. Hatinya remuk. Perasaan dikhianati begitu merajalela. Fikirannya kalut. Pemikiran tentang kejahatan Bapaknya menguasai.
***
Setya datang ke rumah Andre. Setya menceritakanyang ia rasakan dan yang ia fikirkan.
"Bang, aku mencintai Rina istriku, Khanza anakku dengan seluruh hatiku. Aku mengusahakan semuanya untuk mereka. Disisi lain, Bapak dari dulu tidak menyukai Rina. Bahkan setelah Khanza lahir." Cerita Setya.
"Sabar bro, Bapak mungkin butuh waktu menerima semua keputusanmu." Andre berusaha menenangkan.
"Bang, kamarku dari kecil akan direhab menjadi toko. Aku merasa Bapak sudah benar-benar merasa tidak memiliku lagi. Aku di usir dengan caranya."
"Kamu kan sekarang tinggal bersama istrimu di rumah mertuamu. Mungkin menurut Bapak daripada kamar kosong, lebih baik dimanfaatkan." Andre menjelaskan berharap Setya tak emosi.
"Ah, Bapak memang tak menerimaku. Tak permah mencintaiku dan keluargaku. Tak pernah bisa menerima keputusanku. Aku sudah dewasa Bang. Aku memiliki hak atas hidupku, siapa yang akan menjadi istriku, dan agama yang akan kupeluk." Emosi Setya semakin tak terkendali.
"Sabar ya bro."
"Aku masih menghormati Bapak. Tak segan-segan aku menengok ke rumahnya. Mengikuti hari raya agamanya. Tapi ya sudahlah. Mungkin ini sudah takdirku, menjalani hidup tanpa restu Bapakku sendiri. Diusir bahkan tak dipedulikan lagi. Aku pantas dibuang."
"Berlapang dadalah bro. Biar Tuhan yang menyelesaikan. Berdo'alah kepada Tuhanmu. Supaya Bapak bisa menerima istri, anak, dan keputusanmu berpindah agama."
"Iya Bang."
"Semoga Tuhan memberkati kamu dan keluargamu bro. Amen."
"Amin amin amin Ya Rabbalalamin. Insyaallah aku akan legowo. Makasih ya Bang."
"Iya Bro."
Dian Narasya
Yogya, 11.10.2017
"Toko." Jawab Bapak singkat.
"Disebelah mana? Bangunan rumah ini kan sudah tak memiliki tanah kosong." Setya semakin penasaran.
"Tidak ada tanah kosong. Tapi ada kamar kosong." Jawab Bapak dengan nada sedikit sinis.
"Kamar Setya?"
"Iya."
Setya berlalu meninggalkan rumah orang tuanya. Tanpa berpamitan, tanpa melanjutkan obrolan tentang rencana Bapaknya. Hatinya remuk. Perasaan dikhianati begitu merajalela. Fikirannya kalut. Pemikiran tentang kejahatan Bapaknya menguasai.
***
Setya datang ke rumah Andre. Setya menceritakanyang ia rasakan dan yang ia fikirkan.
"Bang, aku mencintai Rina istriku, Khanza anakku dengan seluruh hatiku. Aku mengusahakan semuanya untuk mereka. Disisi lain, Bapak dari dulu tidak menyukai Rina. Bahkan setelah Khanza lahir." Cerita Setya.
"Sabar bro, Bapak mungkin butuh waktu menerima semua keputusanmu." Andre berusaha menenangkan.
"Bang, kamarku dari kecil akan direhab menjadi toko. Aku merasa Bapak sudah benar-benar merasa tidak memiliku lagi. Aku di usir dengan caranya."
"Kamu kan sekarang tinggal bersama istrimu di rumah mertuamu. Mungkin menurut Bapak daripada kamar kosong, lebih baik dimanfaatkan." Andre menjelaskan berharap Setya tak emosi.
"Ah, Bapak memang tak menerimaku. Tak permah mencintaiku dan keluargaku. Tak pernah bisa menerima keputusanku. Aku sudah dewasa Bang. Aku memiliki hak atas hidupku, siapa yang akan menjadi istriku, dan agama yang akan kupeluk." Emosi Setya semakin tak terkendali.
"Sabar ya bro."
"Aku masih menghormati Bapak. Tak segan-segan aku menengok ke rumahnya. Mengikuti hari raya agamanya. Tapi ya sudahlah. Mungkin ini sudah takdirku, menjalani hidup tanpa restu Bapakku sendiri. Diusir bahkan tak dipedulikan lagi. Aku pantas dibuang."
"Berlapang dadalah bro. Biar Tuhan yang menyelesaikan. Berdo'alah kepada Tuhanmu. Supaya Bapak bisa menerima istri, anak, dan keputusanmu berpindah agama."
"Iya Bang."
"Semoga Tuhan memberkati kamu dan keluargamu bro. Amen."
"Amin amin amin Ya Rabbalalamin. Insyaallah aku akan legowo. Makasih ya Bang."
"Iya Bro."
Dian Narasya
Yogya, 11.10.2017
Komentar
Posting Komentar