Angkringan, Jogja dan Cinta
Kenyamanan,
ketenangan, dan berdamai adalah sebuah kebutuhan batin manusia. Saling
mengasihi dan menyayangi adalah fitrah manusia. Demi kebutuhan batin dan fitrah
tersebut, kita dapat melakukan sesuatu untuk mewujudkannya dengan sengaja.
Kami adalah
sepasang laki-laki dan perempuan, yang ditakdirkan atas jodoh oleh Tuhan,
dianugerahi tiga anak istimewa bagi kami (anak pertama sudah meninggal, jadi
kami merawat dua anak), dan diberi jalan hidup merantau di kota istimewa
(setelah menikah kami sempat merasakan hubungan jarak jauh, satu tahun antara
Bogor-Jogja, satu tahun antara Semarang-Jogja, tahun berikutnya bersama di
Jogja). Kami sesekali merasa resah, lelah, rindu kepada keluarga di kampung
halaman, kelimpungan, dan ingin tenang namun kami tak mengingkari atas
kesehatan, kebahagiaan, kelancaran dan kenyamanan yang menyelimuti hari-hari
kami.
Dalam situasi/
perasaan resah, lelah, rindu dan kelimpungan, ada beberapa alternatif yang kami
lakukan berdua. Selain MeTime sendiri
(ini wajib), kami juga dapat dengan sengaja menciptakan Our Time, Just Me and Him. Alternatif tersebut antara lain dengan
menonton film, menikmati musik bersama, pergi ke tempat makan berdua saja, menikmati
hitam pekatnya kopi di teras berdua saja, atau melipir ke tempat makan khas
Jogja yang istimewa, angkringan.
Angkringan
adalah salah satu yang istimewa di Jogja. Sajian sederhana, tetap dengan
kekhasan rasa juga kehangatan kota Jogja.
Nasi kucing dengan isian lauk yang beragam wajib ada, seperti sambel teri,
sambel goreng tempe, sambel goreng hati ayam, rica-rica ayam sebagainya. Kepala
ayam dan ceker ayam bacem serta aneka sate (sate telor puyuh, sate hati ampela,
sate usus, sate bakso) siap dibakar di atas arang. Beragam gorengan dan camilan
kecil atau biasa disebut ‘kletikan’ disediakan. Ada pula teh manis, 'Kopi Joss'
yang nikmat di setiap tetesnya, jahe susu yang siap menghangatkan pengunjung, dan
beberapa aneka minuman sederhana lain.
Angkringan
berasal dari kata bahasa jawa yaitu “angkring” yang berarti duduk santai. Gerobak
kayu dan terpal warna biru atau oranye adalah khas bentuk angkringan. Ada
beberapa kursi kayu panjang, gerobak di tengah, sehingga setiap pengunjung
saling berhadapan untuk menikmati sajiannya. Walapun sekarang ada beberapa angkringan
yang menambahkan lesehan di sekitar gerobaknya, karena kursi di sekeliling
gerobak hanya dapat menampung lima sampai delapan pengunjung. Angkringan sudah
sangat lekat dengan kota pelajar ini, menjamur di pinggiran jalan sehingga mudah
ditemukan.
Di angkringan, kita
bisa duduk santai seraya menikmati sajiannya. Ragam makanan khas angkringan,
dan harga yang tak mahal. Untuk menemukan angkringan dan menikmati makanannya praktis
juga cepat membuat angkringan semakin melekat di mata pengunjung. Pengunjung
berasal dari Jogja bahkan dari luar Jogja, kalangannya pun beragam, profesinya
pun beraneka. Di angkringan, kita juga dapat merasakan kebersamaan, “guyub”,
bahkan romantisme antar pengunjung dan si empunya begitu melekat. Guliran
obrolan, guliran candaan, hingga berakhir kepada saling mencurahkan hati,
saling berkeluh kesah dan memberi solusi. Menemukan kenalan baru juga dapat
ditemukan di angkringan, mungkin justru berakhir dalam kerjasama usaha atau
malah berjodoh. Angkringan di Jogja, tempat sederhana, berjuta cerita, dan berjuta
rasa.
Malam ini, kami
lelapkan kedua buah hati kami lebih awal. Mengkondisikan supaya kami bisa Our Time. Setelah kami selesai
melelapkan keduanya, kami pun berdiskusi, menyengajakan yang seperti apa. Hasil
kesepakatan adalah kami akan pergi ke angkringan. Tak lupa, kami titipkan
anak-anak kepada adik kami (paman anak-anak). Kami pun bergegas menuju
angkringan, kami memilih berboncengan dengan sepeda motor. Menikmati malam
Jogja, hembusan angin yang menerpa wajah dan tubuh kami terasa yang sejuk,
jarak kami menjadi begitu dekat dan lekat. Masa-masa bersama, berdua saja, sebelum
ada anak-anak, pun hadir dalam benak. Tawa, canda, ketika tanganku mulai
mendekap tubuh suamiku. Betapa tidak, yang seperti ini sudah sangat jarang
terjadi, dan ini perlu disengajakan.
Kami memesan minuman
yang sama, jahe panas. Berharap bisa membantu kami menghangatkan raga. Nasi
kucing kami nikmati, kepala ayam bakar dan sate hati pun kami rasai, sembari
bercerita, tentang kami, tentang anak-anak kami. Kami bisa dengan tenang
berdiskusi, saling menatap, bercanda, sesekali serius. Rasa semakin nyaman,
rasa semakin yakin, rasa semakin cinta kami muncul di angkringan, ketika malam
di Jogja, dan ini perlu disengajakan.
Setelah terasa
cukup, kami pun beranjak pulang. Anak-anak masih dalam posisi lelap. Dan kami,
berlanjut menonton film berdua, hingga lelap, hingga gelapnya langit, berubah
menjadi terang.
Dian Narasya

👍👍👍
BalasHapus