Perempuan Lain
Aku mengikutinya hingga di depan
sebuah ruangan. Ada kaca kecil di pintunya. Aku mengawasinya dengan hati-hati. Aku
lelah. Beberapa waktu belakangan ini hati dan fikirannya bagaikan tidak bersamaku lagi.
Dari balik kaca kecil ini aku tahu dia menemui seorang perempuan, terlihat
dari kain penutup kepalanya. Perempuan itu menghadap ke jendela, duduk di kursi roda
dengan tiang infus.
Dia mencium tangan perempuan itu,
mengecup keningnya, memeluknya dengan mesra dan memberikannya sekuntum mawar
putih. Dadaku terasa sesak. Pernikahan kami tinggal sebulan lagi. Aku melihat kebahagiaan
lain di wajah calon suamiku bersama perempuan itu. Sesekali
ia memperlihatkan isi smartphonenya. Senyum dan tawa terlihat di wajahnya. Kemudian
ia menatap tajam perempuan itu, kembali memeluk dan tangan perempuan itu membalas dengan mengusap lembut kepala calon suamiku. Ah ini apa?
Tak sengaja dia melihatku dari
balik kaca, setelah melepas pelukan perempuan itu. Dia pun bergegas keluar menemuiku. Sontak aku memukul tubuhnya yang tinggi.
"Ini yang kamu lakukan
padaku? Calon istrimu?"
"Aku bisa menjelaskan
semuanya." Dia mencoba memelukku, aku berontak mencoba melepaskan pelukannya.
"Alisya, jangan marah sama Reynald ya." Lirih suara yang tak asing ditelingaku. Segera aku menoleh menuju sumbernya. Perempuan itu tersenyum teduh namun wajahnya pasi. Aku seperti mengenali wajahnya. Tapi siapa?
"Alisya, ini Ibu."
Rasanya seperti ada badai diantara cerahnya langit biru, seperti ada suara petir menyibak keheningan. Tulang-tulangku melemah, hatiku runtuh melihatnya. Raganya menyusut, duduk tak punya daya di kursi roda dengan sebuah kantong infus yang bergoyang-goyang disampingnya. Perempuan itu yang sebulan lalu melingkarkan cincin di jari manisku.
"Alisya, ini Ibu."
Rasanya seperti ada badai diantara cerahnya langit biru, seperti ada suara petir menyibak keheningan. Tulang-tulangku melemah, hatiku runtuh melihatnya. Raganya menyusut, duduk tak punya daya di kursi roda dengan sebuah kantong infus yang bergoyang-goyang disampingnya. Perempuan itu yang sebulan lalu melingkarkan cincin di jari manisku.
Aku terisak, bersimpuh dan memeluknya.
"Ibu, maafkan Alisya yang sudah salah menilai Reynald dan Ibu."
"Ibu, maafkan Alisya yang sudah salah menilai Reynald dan Ibu."
"Alisya, setiap hari Reynald
memperlihatkan fotomu kepadaku. Menceritakan segalanya tentangmu. Betapa
Reynald membuat Ibu cemburu padamu." Jemari kurus itu mengusap kepalaku dengan lembut dan lemah.
Kamipun berbalas senyum diantara air mata yang mengalir terserah.
Kamipun berbalas senyum diantara air mata yang mengalir terserah.
"Ibu, Alisya sayang Ibu."
Dian Narasya
Yogyakarta, 27 September 2017
Wes apan nikah ora kenal ibune?
BalasHapushahaha...
BalasHapus