Hei, Masa Lalu.

Hei, masa lalu. Apa kabar? Lama kita tak saling memberi kabar. Hei, masa lalu. Aku sekarang di kotamu. Ada rindu terselip dalam aroma kota ini, ada kenangan menyapa melalui isi kota ini. Hei, masa lalu. Masihkah kau disini?

Pukul 15.00 sore kami tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta yang sudah banyak berubah rupanya. Aroma kota ini sudah tercium. Membuka tabir rindu yang usang. Menerawangkan kenangan yang terpendam. 12 tahun silam, Aku melihat punggungmu disini.

“Mah, Papah kok belum datang?”
“Sebentar, Mamah Whatsapp Papah dulu ya.”
Kami datang ke kota ini untuk menyusul Mas Andre suamiku. Pekerjaan Mas Andre disini akan rampung dalam waktu 10 hari lagi. Alea, anakku juga sedang libur kenaikan kelas selama dua minggu. Sehingga kami berencana untuk menikmati kota budaya ini.

“Alea, kata Papah kita diminta untuk menunggu. Papah masih ada sedikit pekerjaan.”
“Lama tidak Mah?”
“Kata Papah, sekitar setengah sampe 1 jam kok. Sabar ya Alea.”
“Iya Mah.”
Aku dan Alea duduk di kursi tunggu, di sisi paling ujung barisan paling belakang. Alea asyik membaca komik. Alea memang gemar membaca seperti Papahnya, berbanding terbalik denganku.

Suara berisik khas stasiun, justru membuatku tuli dan semua terasa sunyi. Aku seperti kembali ke 12 tahun lalu. Rasa penasaran bercampur  rindu menari-nari di fikiran dan batinku.

Hei, masa lalu. Apa kabar? Aku masih saja ingin tahu tentangmu, terkadang merindukanmu. Aku sudah memanfaatkan media sosial untuk mencari tahu tentangmu, namun hasilnya nihil. Menurutku bertanya kepada teman-teman, bukan cara yang baik. Sehingga sampai hari ini, aku masih ingin tahu tentangmu dan terkadang merindu.

Hei, masa lalu. Kusiapkan beberapa pertanyaan dalam benakku jika nanti Tuhan memberi kesempatan aku bertemu denganmu. Aku akan menanyakan tentang kabar dirimu, keluargamu, dan kamu pasti sudah memiliki anak, seperti aku sudah memiliki Alea. Aku memang menyengajakan untuk menemuimu, tanpa sepengetahuan Mas Andre, Alea ataupun kamu. Modalku hanya keyakinan kalau kamu masih di kota ini dan masih melaksanakan aktivitas rutinmu dulu. Aku akan menemuimu, menanyakan tentangmu dan memaksa atas jawaban pertanyaanku dulu, mengapa kamu menyuruhku pergi?

“Mah, Papah sudah datang.”
“Oh iya.”
“Pah, Papah, Papah.”
Alea berteriak memanggil Mas Andre, sembari melambaikan tangannya.

Kamipun beranjak meninggalkan stasiun ini. Di dalam mobil Mas Andre menceritakan jadwal pekerjaannya, karena ini berkaitan dengan rencanaku dan Alea. Mas Andrepun bertanya kepadaku. Namum payah, aku diam menikmati lamunanku pada masa laluku. Hingga punggung tanganku digenggam oleh Mas Andre dan aku baru tersadar.
“Kenapa Dek?”
“Ma’af Mas, lagi ingat teman-temanku waktu aku kuliah disini dulu.”
“Kamu mau bertemu teman-temanmu?”
“Tidak kok Mas. Teman-teman kuliahku dulu banyak yang keluar Jogja. Tapi aku ingin ke Ibu Kos ya Mas.”
“Boleh, mau aku temani?”
“Tidak usah Mas, biar aku sama Alea saja.”
“Oke.”

Ah aroma kota ini semakin melekat, kenangan semakin jelas melesat, rindupun semakin pekat, penasaranku bebas mencuat. Hei, masa lalu. Apa kabar? Aku dan kamu memang sudah memiliki kehidupan masing-masing. Namun, pertanyaan itu belum pernah kamu jawab, dan aku merasa jawaban itu adalah hakku. Kamu yang dulu melukiskan keindahan hari-hariku di kota ini, mencerahkan tentang ilmu agama dan kebaikan-kebaikan, memintaku pergi darimu tanpa alasan yang jelas. Hei, masa lalu. Kini aku di Jogja, kota sejuta kenangan bagiku bersamamu. Aku akan mencarimu, memaksa atas hakku.

Hari berganti hari, aku, Alea dan Mas Andre sangat menikmati kota ini. Walaupun seringkali Mas Andre absen bersama kami karena pekerjaan. Tak apalah ada Alea, ada kenangan dan ada jawaban yang harus kukejar.

Sabtu siang aku dan Alea bertandang ke rumah Ibu Warni, Ibu kos ku yang dulu. Ibu Warni masih sehat, walau raganya sudah tak lagi bugar seperti 12 tahun silam.
“Clara, saya kira kamu akan menikah dengan Mas Galih.” Celetuk Ibu Warni.
Aku kaget, beliau berkata seperti itu. Aku melihat Alea masih asik melihat ikan-ikan dalam aquarium di pojok ruang tengah. Syukurlah, semoga Alea tidak mendengarkan dan mengamati pembicaraan kami.
“Iya Bu, kami belum berjodoh.”
“Cerita tentang kalian dulu, sungguh indah. Seluruh teman-temanmu dan lingkungan kos tahu tentang cinta kalian. Cinta yang tulus dan manis.”
“Ah Ibu bisa saja, itu hanya cinta anak muda biasa Bu. Sama seperti pemuda pemudi pada umumnya.”
“Tidak bagi kami yang melihatnya Clara.”
Aku abaikan kata-kata Ibu Warni. Walau sebenarnya ada buncahan rindu yang tertahan, ada kegundahan atas jawaban. Aku tak nyaman untuk bertanya ke Ibu Warni tentang keberadaan Mas Galih.
“Bu, kami pamit ya. Sudah sore. Kami mau ke gereja St. Antonius Kota Baru dulu.”
“Kesanalah Clara, kamu akan menemukannya disana.”
“Menemukan apa Bu?”
“Hmmm.. Tuhan dan ketenangan.”
Rautnya tersenyum tapi seperti ada rahasia dibalik perkatannya.

Aku dan Clara menuju gereja di jantung kota ini. Gereja yang dulu setiap Sabtu sore hingga Minggu sore akan menjadi tempat tujuan Mas Galih. Aku masuk ke gereja bersama Alea.  Sembari membaca setiap ayatNya dalam Al-Kitab, aku berdo’a dalam hati. Tuhan, pertemukan aku dengan Mas Galih di rumahMu ini. Amen.

Setiap sudut gereja ini, mengingatkanku padamu Mas Galih. Aroma yang muncul disini, udara yang menyelimuti gereja ini dan suasana yang ada di gereja ini membuatku seperti kembali ke 12 tahun silam.

Hingga ibadah selesai, aku tak melihat Mas Galih. Ah, mungkin dia sedang ada urusan, atau sudah tidak di kota ini. Dimana kamu Mas Galih? Aku enggan melangkah keluar dari gereja ini. Aku menatap wajah Tuhan Yesus. Berkata dalam hati denganNya “Tuhan, kenapa Kau persulit do’a hambaMu?”

“Mah, ayo keluar.” Suara Alea memecahkan fikiranku.
“Oh iya, ayo.”

Kamipun melangkah mengikuti arus jama’at menuju ke pintu keluar gereja.
“Alea, kita duduk di kursi taman dulu yuk.”
“Kenapa Mah?”
“Tidak apa-apa, kita nikmati petang ini di taman gereja ya.”
“Oke Mah.”

“Mah, Tuhan itu penyayang ya.”
“Iya dong Alea. Kenapa kamu bertanya seperti itu?”
“Karena Tuhan mengirimkan Papah dan Mamah buat aku. Papah dan Mamah selalu menyayangiku. Papah dan Mamah juga saling menyayangi. Aku sangat bahagia menjadi anak Papah dan Mamah.”

Aku mendekap Alea. Memejamkan mata, wajah Mas Andre muncul difikiranku. Betapa sempurnanya dia, taat beragama, mencintai keluarganya sepenuh hati, pekerja keras dan selalu mengusahakan segalanya untuk aku dan Alea. Betapa beruntungnya aku, memiliki Mas Andre dan Alea. Lebih baik, aku hentikan saja mencari Mas Galih. Toh, aku sudah memiliki Mas Andre yang luar biasa. Tapi ah, bayangan masa lalu menggeser rasa syukur itu lagi. Aku tetap mengharapkan pertemuan itu, dan memperoleh hakku.

Hingga gerimis datang, senja menghilang di gelap malam Mas Galih belum juga terlihat. Alea terus meminta untuk kembali ke homestay. Mas Andre juga sudah beberapa kali mengirim whatsapp memberitahukan jika pekerjaanya hari ini sudah selesai. Akupun memesan taksi online untuk mengantarkan aku dan Alea ke homestay.

Minggu pagi, aku segerakan membuka mata dan menggerakan ragaku. Bergegas menyambut hari ini. Berharap bisa bertemu dengan Mas Galih dan mendapatkan hakku. Terlalu banyak kemungkinan yang muncul dalam fikiranku selama ini. Siapakah yang menggeserku dari hati Mas Galih kala itu. Hingga ia memintaku pergi.

“Mas, ke Geraja yuk.”
“Geraja mana Dek?”
“Gereja di Kota Baru Mas. Dulu aku sering kesana. Kemarin sore, aku dan Alea juga dari sana.”
“Ayo.”

Kamipun sampai di gereja yang menyimpan banyak kenangan, lagi-lagi tabir rindu menganga. Mas Galih, aku percaya kamu masih di kota ini, dan setia mendatangi gereja ini.

Kami bertiga melaksakana ibadah dengan khusyuk, hingga selesai. Seluruh Jama’at beranjak keluar gereja.
“Mas keluar saja dulu, ajak Alea.”
“Kamu Dek?”
“Aku nanti saja ya Mas, masih mau berdo’a. Mas tunggu aku di kursi taman gereja ya.”
“Iya Dek.”
“Terimkasih Mas.”

Aku menatap tajam Tuhan Yesus. Kemudian kukatupkan kedua telapak tanganku, menundukan kepala dan memejamkan mata. Aku bertanya dan berdo’a padaNya dalam hati.
“Tuhan, kenapa Kau hadirkan Mas Galih padaku. Toh, Kau hadirkan Mas Andre yang sempurna untukku? Tuhan, kenapa Kau munculkan rindu di hati ini untuk Mas Galih, padahal cinta Mas Andre kepadaku tak perlu diragukan? Tuhan, kenapa Kau hadirkan rasa penasaran atas pertanyaanku dulu kepada Mas Galih, nyatanya aku sudah bahagia dengan Mas Andre dan Alea? Jika memang mereka adalah cinta yang paling layak untukku, berilah aku petunjuk atas pertanyaanku dahulu. Supaya kegelisahan ini sirna.” Amen

Akupun beranjak menuju pintu keluar gereja. Aku melihat Mas Andre dan Alea sedang bercengkrama dengan seseorang berjubah khas Pastor di sekitar kursi taman. Mereka berdiri, Mas Andre dan Alea menghadapa ke arah pintu keluar gereja, sedangkan Pastor itu menghadap mereka.

“Dek, sini.”
Mas Andre memberi kode dengan tangan dan raut wajah yang riang.
“Romo, ini istriku.”
Pastor itu membalikkan badan, kami langsung berjabat tangan. Kami diam. Saling menatap.
“Clara?”
“Mas Galih?”
Aku terhenyak. Fikiranku dalam kondisi tidak tertata, hatiku bagai tak memiliki mata.

"Romo sudah mengenal istriku?”
Kami segera melepas jabat tangan kami.
“Hmmm.. Iya, Clara adalah adik tingkatku sewaktu kuliah.”
“Wah kebetulan sekali. Dek, ini Romo yang Mas pernah ceritakan.”
“Romo yang menolong Mas setahun lalu, waktu Mas kecelakaan di Jogja?”
“Iya benar.”
Kami pun saling bercengkrama. Meneruskan cerita satu sama lain dengan senyum. Walau kerunyaman terjadi dalam diriku. Tak lama, Mas Galih pamit karena harus melaksanakan aktivitasnya di gereja.

Terima kasih Tuhan Yesus kini kutahu alasan Mas Galih. Ia adalah Selibat.

Mas Galih mencintaiMu dengan seluruh hatinya. Aku tak pantas merebut Mas Galih dariMu.

Dian Narasya
Yogyakarta, 2 Oktober 2017

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Operasi Zebra

Rindu dalam Goyah